Minggu, 18 Oktober 2020

Sebuah kesaksian kecil

 Keluargaku adalah keluarga yang serba kekurangan karena aku tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh keluargaku. Aku hanya seorang pekerja dengan pendapatan yang sangat rendah. Gajiku hanya cukup untuk makan sehari-hari, untuk kebutuhan yang lain aku harus mencari pinjaman. Walaupun demikian aku dan istriku mampu bertahan ditengah kehidupan yang sulit ini, karena campur tangan Tuhan Yesus. Istriku seorang yang sangat baik dan menerima keadaanku sebagai seorang pekerja rendahan sejak dia mengenal diriku. Aku mengenal dirinya karena jasa baik teman-temanku yang juga teman istriku. Pertama kali berkenalan aku heran dengan keadaannya, rumahnya sangat jelek dan seperti diterjang angin. Tapi aku tidak peduli dengan keadaan rumahnya, waktu itu yang paling penting adalah orangnya. Kami berpacaran kurang lebih 4 tahun, pada akhir tahun 1998 mengucapkan janji suci. Pada tahun 2001 anak kami yang pertama lahir, enam tahun kemudian anak kami yang kedua menyusul. Genap sudah kami membentuk keluarga kecil, yang terdiri dari orang tua dan dua anak.

Dari tahun 1998 sampai sekarang kami telah menikmati pahit manisnya kehidupan secara bersama-sama dalam suka dan duka. Peristiwa peristiwa yang tidak dapat saya lupakan selama hidup sebagai suami-istri adalah :

* Waktu kami sekeluarga diusir dari rumah kontrakan. Tepatnya pada bulan Oktober tahun 2004, pada masa kontrakan rumah sudah habis, pemilik rumah hendak menjual rumah yang kami tempati. Memang salah saya seharusnya kami sudah meninggalkan rumah itu, tapi waktu itu saya merasa masih negosiasi dengan pemilik rumah untuk membeli rumah tersebut. Rupanya pemilik rumah tidak sabar dan menjual rumah itu kepada orang lain. Sudah terjadi kesepakatan dan pembayaran uang muka, maka sang pembeli merasa memiliki hak untuk mengusir kami. Namun berkat pertolongan Tuhan Yesus, beberapa bulan setelah peristiwa pengusiran itu saya bisa membeli rumah sendiri melalui KPR dengan membayar uang muka dapat pinjaman dari perusahaan saya bekerja.

* Pada tahun 2006, di perusahaan saya bekerja mengadakan perombakan struktur organisasi kepegawaian. Beberapa pegawai mengalami penurunan jabatan, seperti yang saya alami. Saya yang semula pengawas atau koordinator pembaca meter turun jabatan menjadi pembaca meter. Penurunan ini tentu sangat mempengaruhi penerimaan gajiku. Saya sempat protes ke pihak perusahaan, namun sia--sia saja. Selama pengurangan gajiku, saya selalu berdoa dan Tuhan Yesus selalu memelihara dan memenuhi kebutuhanku.

* Bulan Juni tahun 2009, para pekerja di perusahaan saya bekerja mengadakan demonstrasi menuntut pesangon karena terjadi peralihan atau pelimpahan dari perusahaan lama ke perusahaan baru. Namun perusahaan hanya memberikan tali asih. Para karyawan atau pekerja menolak pemberian tali asih, mereka menuntut pesangon yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Masalah ini terus berkembang hingga mediasi di kantor Depnaker, sampai kantor Depnaker mengeluarkan surat perintah, supaya perusahaan memberikan hak pesangon kepada para pekerjanya. Tetapi perusahaan tidak melaksanakan perintah dari Depnaker, justru mem PHK seluruh pekerja yang tidak mau dimutasi keluar kota Semarang. Surat peringatan dikirim ke rumah sampai tiga kali, sehingga kami para pekerja dianggap mengundurkan diri dan perusahaan merasa benar dengan tidak membayarkan hak pesangon kepada para pekerja. Selama satu tahun saya tidak bekerja, hingga Tuhan Yesus memberikan pekerjaan yang sama kepada saya bulan mei tahun berikutnya. Berkat kemurahan Tuhan sampai hari ini saya masih bekerja.

* pada saat itu, hari Jumat 24 Agustus 2015 Anakku pulang sekolah langsung bermain bersama teman-temannya, namun tidak lama kemudian pulang diantar oleh teman-temannya dengan keadaan kesakitan pada lengan tangannya. Saya pikir cuma terkilir biasa, maka saya panggilkan tukang urut. Oleh tukang pijit itu tangan anakku dibalut dengan selendang. Lengan tangannya menjadi bengkak setelah dibalut namun anakku bisa tidur nyenyak. Sorenya keponakanku yang dokter melihat keadaan anakku menghubungi temannya yang juga dokter spesialis anak. Kemudian dokter teman keponakanku menyarankan untuk segera melepaskan balutan selendang, takutnya justru menghambat peredaran darah dijari-jari tangan. Saya memberanikan diri melepaskan balutan itu, setelah membuka balutan itu, anak saya merasa kesakitan dan menangis. Esok harinya hari Sabtu, aku membiarkan anakku istirahat dirumah, karena pikiranku, klinik yang langgananku tutup. Pada hari Minggu, berkat bantuan dari keponakanku yang dokter dihantarkan ke tukang pijit, temannya. Sesampainya di sana, sang teman menyarankan agar dibawa ke dokter spesialis tulang, karena ini kasus patah tulang. Besok harinya sekitar sore hari baru anakku, saya bawa ke dokter  spesialis bedah, bapak dr Hakimansyah. Pertama kali ketemu dr Hakimansyah tanya, anaknya minta diapakan. Terus terang saya jadi bingung, dengan pertanyaan itu. Belakangan baru diketahui maksudnya, bahwa anakku ketika jatuh mengapa tidak langsung dibawa ke dokter. Mungkin ada pikiran dari dr Hakimansyah, bahwa setelah anakku jatuh di bawa ke dukun dan setelah dukunnya tidak mampu menangani baru dibawa kedokter. Kemudian dr Hakimansyah membuat surat rujukan untuk Rontgen dan hasil Rontgen menunjukkan bahwa anakku mengalami patah tulang dan harus segera dioperasi untuk penyambungan. Yang sedikit melegakan proses penyambungan tidak menggunakan pen sehingga tidak ada biaya tambahan untuk membeli pen. Proses operasi berjalan lancar, dua hari kemudian pulang. Setelah menjalani terapi untuk memulihkan pergerakan tangannya, akhirnya tangan anakku sembuh. Namun demikian kami mempunyai tugas lagi untuk melepaskan kawat penyambungan setelah beberapa Minggu. Hatiku tidak tega membayangkan tangan anakku dibedah lagi, maka saya memutuskan untuk menunda proses pelepasan kawat. Setelah mundur hingga dua tahun kawat penyambung sukses diambil.

Demikianlah lakon yang harus kami lalui selama mengarungi bahtera rumah tangga, kami senantiasa berdoa agar kehidupan kami diberi kemudahan dan di jauhkan dari persoalan yang sulit.  PUJI TUHAN HALLELUYAH, AMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar